Sabtu, 03 Maret 2012

Konsep Rumah Tahan Gempa


"Walaupun gempa tidak dapat kita prediksi, namun kita dapat meminimalisir dampak yang
ditimbulkannya dengan cara membangun rumah tahan gempa. Ketika gempa dan tsunami
melanda Aceh tahun 2004 lalu, sebagian besar rumah tradisional (berbahan kayu) masih tetap
berdiri kokoh. "
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang rawan gempa, karena di dasar
samudera negara kita ini terdapat tiga lempeng, yakni Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik,
yang bila bertumbukan akan menghasilkan gempa tektonik.
Secara alamiah, fenomena alam tersebut tidak bisa dihindari. Sebab lempeng-lempeng yang
ada di negara kita itu merupakan bagian dari kerak bumi yang bergerak aktif. Pergerakan itu
dipicu antara lain oleh air laut dan samudera.
Sekitar 71 persen wilayah bumi kita ini terdiri atas laut dan samudera, atau dengan kata lain
berupa air.
Lempeng-lempeng bumi ini sebenarnya adalah bagian dari kerak bumi yang terdiri atas
berbagai jenis bebatuan. Efek dari pergeseran itu adalah berupa getaran yang disebut gempa.
Gempa terjadi karena ada perpindahan massa dalam lapisan batuan bumi. Kekuatan suatu
gempa bergantung pada jumlah energi yang terlepas, saat terjadi pergeseran dan tumbukan.
Pergeseran tersebut memang memungkinkan terjadinya tumbukan. Ada kalanya pergeseran
itu menyebabkan perubahan bentuk yang tiba-tiba, sehingga terjadi ledakan dan patahan yang
menimbulkan gempa hebat yang disebut sebagai gempa tektonik. Keadaan itu tidak bisa kita
hindari karena memang bagian dari evolusi bumi.
Nah, walaupun gempa tidak dapat kita prediksi, namun kita dapat meminimalisir dampak yang
ditimbulkannya dengan cara membangun rumah tahan gempa. Ketika gempa dan tsunami
melanda Aceh tahun 2004 lalu, sebagian besar rumah tradisional (berbahan kayu) masih tetap
berdiri kokoh. Bahkan di negara jepang yang sering terjadi ratusan gempa, bahan dasar
rumah mereka (Jepang, red) terbuat dari kayu dan kertas ditambah lagi dengan pintu yang
digeser kesamping, serta meja ala jepangnya yang hampir menyentuh lantai.
Kini dengan teknologi barunya, Jepang menciptakan rumah Barier adalah rumah bola nomaden
yang memiliki banyak keistimewaan. Diantaranya, tahan gempa dan bisa mengapung di air.
Rumah bola ini dibuat berdasarkan Hukum Bernauli yang berbunyi: jika ada angin berhembus
di bawah suatu benda, maka benda tersebut mengalami tekanan gaya ke bawah. Dinding
rumah ini terdiri dari 32 sisi. Rahasia dari rumah ini adalah pada sistem pondasinya. Dengan
menggunakan struktur pondasi bebas (beda dengan rumah biasa) dan pemberian gaya yang
merata di 32 sisi dinding rumah bola ini menyebabkan rumah bola ini memiliki kekuatan yang
merata pada setiap bagiannya.
Bahan rumah ini terdiri dari tiga lapisan, lapisan tengahnya mampu mengalirkan udara masuk




Rumah tahan gempa, berdasarkan analisa data dari http://www.ristek.go.id adalah sebagai
berikut:
Konsep Dasar
Konsep bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah upaya untuk membuat seluruh elemen
rumah menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak lepas/runtuh akibat gempa. Penerapan
konsep tahan gempa antara lain dengan cara membuat sambungan yag cukup kuat diantara
berbagai elemen tersebut serta pemilihan material dan pelaksanaan yang tepat.
Konsep rumah contoh yang dikembangkan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi
(KMNRT) tidak hanya mengacu kepada konsep desain tahan gempa saja, akan tetapi
mencakup konsep pemanfaatan material setempat, budaya masyarakat dalam membangun
rumah, serta aspek kemudahan pelaksanaan.
Pondasi
Pondasi menggunakan sistem pondasi batu kali menerus, dimana hubungan antara sloof
dengan pondasi dipergunakan angker setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan supaya ada
keterikatan antara pondasi dengan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan antara
ponadsi dengan sloof tidak lepas.
Dinding
Dinding yang dipakai merupakan perpaduan antara kebiasaan masyarakat setempat yang
menggunakan material kayu dan dinding yang terbuat dari batu-bata. Untuk menyatukan
dinding dengan kolom maupun sloof, dipergunakan angker yang dipasang pada jarak 0.3






Tidak ada komentar:

Posting Komentar